Kue Jejorong Khas Kresek: Warisan Kuliner Tradisional yang Tetap Melegenda
Kresek - Di Kampung Bojong, Desa Kresek,
Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, terdapat penganan tradisional
bernama kue jejorong yang sebagian masyarakat juga menyebutnya tembelor.
Jajanan khas peninggalan warisan kuliner ini masih dapat dijumpai di pasar
tradisional maupun pada berbagai acara adat dan hajatan masyarakat setempat.
Meski kini mulai bersaing dengan jajanan
modern, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, santan,
serta gula putih atau merah ini tetap digemari. Pengolahannya dilakukan dengan
memasukkan adonan ke dalam takir, yakni wadah yang dibuat manual dari daun
pisang berbantu sematan lidi, untuk kemudian dikukus hingga matang. Proses ini
menghasilkan perpaduan tekstur lembut, rasa manis gurih, serta aroma harum daun
pisang yang autentik.
Hj. Khalilah (52), salah satu perajin
yang telah memproduksi kuliner ini secara turun-temurun di Kresek selama lebih
dari tiga dekade, mengungkapkan bahwa takir merupakan kunci utama aroma khas
kue tersebut. “Membuat takir itu ada seninya, tidak boleh sembarang daun
pisang. Kami biasanya pakai daun pisang batu karena lebih lentur dan tidak
mudah robek saat dikukus. Wangi dari daun pisang inilah yang membuat jejorong
khas Kresek punya aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh cup plastik
modern,” jelas Hj. Khalilah.
Kue jejorong memiliki struktur unik yang
menyimpan kejutan manis di baliknya. Di lapisan atas, terdapat adonan tepung
beras, santan kental, garam, serta perasan daun suji dan pandan. Sementara itu,
di dasar takir, diletakkan gula aren asli atau gula putih halus yang akan
mencair sepenuhnya saat proses pengukusan. Ketika sendok merobek permukaan kue
yang putih bersih, cairan gula aren kental akan langsung meleleh, menciptakan
harmoni sempurna antara gurih asin santan dan manis legit gula di dalam mulut.
Bagi masyarakat Kresek, kue ini bukan
sekadar camilan, melainkan simbol kebersamaan yang wajib hadir dalam momen
sakral seperti hantaran pernikahan, khitanan, Maulid Nabi, hingga menjadi
takjil saat bulan Ramadan. Pardi, salah seorang pelanggan, mengakui
keistimewaan cita rasa kue tersebut. "Saya sudah sering membeli jejorong,
apalagi kalau ada acara atau saat bulan Ramadan. Rasanya lembut, manisnya pas,
dan aroma daun pisangnya membuat kue ini terasa lebih khas. Saya berharap
jejorong tetap dilestarikan supaya generasi muda juga bisa mengenal makanan
tradisional seperti ini," tuturnya. Menurutnya, keberadaan perajin lokal
sangat penting agar tradisi kuliner khas Kresek tidak hilang.
Meskipun gempuran kuliner modern saat
ini sangat masif, jejorong khas Kresek tetap memiliki tempat khusus di hati
para pencintanya. Para perajin kue tradisional di Kresek terus memproduksi
hidangan ini demi menjaga resep warisan keluarga tetap hidup di tengah
masyarakat.
(Reporter: Nurlaelah)
(Editor: Yosafat)
Berita Lainnya
-
19 Aug 2026
Kue Jejorong Khas Kresek: Warisan Kuliner Tradisional yang Tetap Melegenda
Kresek - Di Kampung Bojong, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, terdapat penganan tradisional ...
-
19 Aug 2026
Segarnya Es Cemil Warung Mungil: Inovasi Kuliner Es Krim Berbalut Roti Di Kresek
Kresek – Di tengah cuaca yang menyengat, hadir inovasi minuman kekinian bernama Es Cemil yang ...
-
19 Aug 2026
Pekan Olahraga Dan Seni: Membentuk Karakter Sportif Dan Generasi Kreatif Sejak Dini
Kresek – Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) diselenggarakan secara berkala setiap satu tahun sekali sebagai ...
-
31 Jul 2026
Konsisten Berikan Pelayanan Prima, Kecamatan Kresek Pertahankan Predikat "Sangat Baik" dalam IKM Tiga Tahun Terakhir
KRESEK – Pemerintah Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, terus membuktikan komitmen dan dedikasinya dalam memberikan pelayanan ...
-
16 Jul 2026
Sinergi UNJ dan Kecamatan Kresek Tingkatkan Kapasitas Guru dan Pelaku UMKM melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat
TANGERANG – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta ...