Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Tangerang yang Sejahtera dan Berdaya Saing
19 Aug 2026 57 pembaca ADMIN Kresek

Kue Jejorong Khas Kresek: Warisan Kuliner Tradisional yang Tetap Melegenda

Kresek - Di Kampung Bojong, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, terdapat penganan tradisional bernama kue jejorong yang sebagian masyarakat juga menyebutnya tembelor. Jajanan khas peninggalan warisan kuliner ini masih dapat dijumpai di pasar tradisional maupun pada berbagai acara adat dan hajatan masyarakat setempat.

Meski kini mulai bersaing dengan jajanan modern, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, santan, serta gula putih atau merah ini tetap digemari. Pengolahannya dilakukan dengan memasukkan adonan ke dalam takir, yakni wadah yang dibuat manual dari daun pisang berbantu sematan lidi, untuk kemudian dikukus hingga matang. Proses ini menghasilkan perpaduan tekstur lembut, rasa manis gurih, serta aroma harum daun pisang yang autentik.

Hj. Khalilah (52), salah satu perajin yang telah memproduksi kuliner ini secara turun-temurun di Kresek selama lebih dari tiga dekade, mengungkapkan bahwa takir merupakan kunci utama aroma khas kue tersebut. “Membuat takir itu ada seninya, tidak boleh sembarang daun pisang. Kami biasanya pakai daun pisang batu karena lebih lentur dan tidak mudah robek saat dikukus. Wangi dari daun pisang inilah yang membuat jejorong khas Kresek punya aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh cup plastik modern,” jelas Hj. Khalilah.

Kue jejorong memiliki struktur unik yang menyimpan kejutan manis di baliknya. Di lapisan atas, terdapat adonan tepung beras, santan kental, garam, serta perasan daun suji dan pandan. Sementara itu, di dasar takir, diletakkan gula aren asli atau gula putih halus yang akan mencair sepenuhnya saat proses pengukusan. Ketika sendok merobek permukaan kue yang putih bersih, cairan gula aren kental akan langsung meleleh, menciptakan harmoni sempurna antara gurih asin santan dan manis legit gula di dalam mulut.

Bagi masyarakat Kresek, kue ini bukan sekadar camilan, melainkan simbol kebersamaan yang wajib hadir dalam momen sakral seperti hantaran pernikahan, khitanan, Maulid Nabi, hingga menjadi takjil saat bulan Ramadan. Pardi, salah seorang pelanggan, mengakui keistimewaan cita rasa kue tersebut. "Saya sudah sering membeli jejorong, apalagi kalau ada acara atau saat bulan Ramadan. Rasanya lembut, manisnya pas, dan aroma daun pisangnya membuat kue ini terasa lebih khas. Saya berharap jejorong tetap dilestarikan supaya generasi muda juga bisa mengenal makanan tradisional seperti ini," tuturnya. Menurutnya, keberadaan perajin lokal sangat penting agar tradisi kuliner khas Kresek tidak hilang.

Meskipun gempuran kuliner modern saat ini sangat masif, jejorong khas Kresek tetap memiliki tempat khusus di hati para pencintanya. Para perajin kue tradisional di Kresek terus memproduksi hidangan ini demi menjaga resep warisan keluarga tetap hidup di tengah masyarakat.

 

(Reporter: Nurlaelah)

(Editor: Yosafat)






Selamat Datang di Web Terpadu Kabupaten Tangerang!

Kami menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda saat menjelajahi situs ini. Cookies membantu kami memahami preferensi Anda dan memungkinkan kami untuk memberikan konten yang lebih relevan dan pengalaman yang lebih personal. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran mengenai penggunaan cookies, jangan ragu untuk menghubungi kami.